|
Dalam kurun waktu yang berdekatan, dua wilayah di Jawa Tengah kembali diguncang bencana tanah longsor yang merenggut korban jiwa. Longsor pertama terjadi di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Cilacap, pada Kamis malam, 13 November. Disusul insiden serupa di Pandanarum, Banjarnegara, pada Minggu, 16 November. Meski pemicunya berbeda, kedua kejadian ini memperlihatkan pola geologi yang serupa—sebuah alarm bagi daerah selatan Jawa yang dikenal rawan pergerakan tanah. Apa yang membuat kawasan ini begitu rentan? Mengapa Banjarnegara menjadi zona gerakan tanah dengan tingkat bahaya menengah hingga tinggi? Dan ancaman terbesar apa yang sebenarnya tersembunyi di balik bentang alamnya—yang penting untuk dipahami pemerintah maupun masyarakat? TALK: Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) - Tim DERU (Disaster Early Respon Unit) UGM, Prof. Dr. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D |