|
Description:
|
|
Pembawa Renungan : RP. John Laba, SDB
Timor Leste
Yoh. 3:16-21.
Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."
Demikianlah Injil Tuhan kita
Terpujilah Kristus.
Renungan:
Cinta tak bersyarat
Pada hari ini kita semua mengenang St. Yusuf, sang pekerja tulen bagi keluarga kudus dari Nazaret. Beliau dikenal di dalam Gereja sebagai suami Bunda Maria, Bapa Pemelihara Yesus dan sebagai pelindung para karyawan. Kisah hidupnya memang sangat unik. Ia dikenal dalam Injil sebagai seorang pribadi berdarah bangsawan dari Raja Daud bapa leluhurnya. Hidupnya sangat sederhana, patuh, saleh, jujur dan tulus. Ia jujur dan tulus menerima Maria sebagai istrinya, dan bersama-sama dengan Maria membesarkan Yesus Kristus, Anak Allah yang menjadi manusia. Pekerjaannya sederhana sebagai tukang kayu, namun ia mewarisinya kepada Yesus, Puteranya. Yesus bahkan disapa sebagai Anak tukang kayu (Mt. 13:55; Mrk 6:3). Artinya figur profesionalisme St. Yusuf memang sangat kuat di dalam diri Yesus. Maka tepat sekali Yesus dikenal dengan sebutan ‘Yeshua Bar Yoseph!’ Yesus anak Yusuf.
St. Yusuf memang seorang profesionalis karena melalui pekerjaan tangan ia menunjukkan kepada kita pemahaman akan dimensi ilahinya. Dengan bekerja manusia terlibat dalam diri Allah sebagai sang Pencipta. Dengan bekerja manusia sungguh-sungguh menjadi manusia. Konsili Vatican II, dalam dokumen “Gaudium et Spes” menegaskan: “Melalui kerja, manusia mencari nafkah bagi dirinya dan bagi mereka yang menjadi tanggungannya.” (GS,67). Katekismus Gereja Katolik mengajarkan begini: “Pekerjaan itu untuk pria dan wanita bukan kerja paksa (Bdk. Kej 3:17-19), melainkan kerja sama dengan Allah demi penyempurnaan ciptaan yang kelihatan.” (KGK, 378). Dalam sejarah Gereja, Paus Pius XII menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari Raya Santo Yusuf Pekerja, sekaligus menetapkan sebagai Hari Buruh. St. Yusuf menjadi pelindung para karyawan/buruh yang bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Sambil memandang St. Yusuf Pekerja, kita menerima nilai-nilai rohani warisannya yakni kita bekerja dengan jujur, tekun dan menggemari dunia industri. Semua ini demi kebaikan umat manusia.
Sambil memandang St. Yusuf, dengan kasihnya yang besar kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus Kristus dalam keluarga kudus dari Nazaret, marilah kita memahami kasih setia Tuhan dalam diri manusia secara umum. Kita mendengar kisah percakapan Yesus dan Nikodemus. Yesus menunjukkan jati diri-Nya sebagai kasih Allah Bapa. Kita semua mengingat perkataan ini: “Allah adalah kasih” (1Yoh 4:8.16). Dan benar sekali bahwa Allah adalah kasih. Dialah yang memiliki kemampuan untuk mengasihi tanpa syarat apapun. Kasihnya yang besar itu gratis bagi manusia. Maka kasih tanpa syarat menjadi jati diri Tuhan Allah Bapa melalui Yesus Kristus sang kasih Bapa. Sebab itu dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, |